Rabu, 16 Desember 2015

makalah bimbingan konseling

KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim
Puji syukur Alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah SWT. Yang telah melimpahkan rahmat, taufiq serta hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas penyusun makalah pada mata kuliah Pengembangan Kurikulum ini yang berjudul “Landasan Bimbingan Konseling”.
Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan pada junjungan kita baginda Nabi MUHAMMAD SAW, yang telah menuntun kita dari suatu masa yang gelap gulita menuju masa yang terang benderang, melalui ajaran agama Islam.
Penghargaan yang setinggi-tingginya kami sampaikan kepada dosen pembimbing kami Husni Abdillah, M.Pd.I, yang telah membimbing kami dengan baik, dalam studi Bimbingan Konseling ini.
Segenap penulis berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis khususnya.
Tentunya dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan,mengingat masih sama-sama belajar. Maka dari itu, kami sebagai penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi pertimbangan perbaikan bagi kami. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada kita. Amiin.

Surabaya,8 Maret 2015


(Penyusun)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan Penulisan 1
BAB II PEMBAHASAN
  1. Landasan Bimbingan Konseling 2
  1. Landasan Filosofis 2
  2. Landasan Historis 3
  3. Landasan Sosial Budaya 6
  4. Landasan Religius 8
  5. Landasan Sosiologis 10
  6. Landasan Psikologis 11
  7. Landasan Pedagogis 15
  1. Hubungan Antar landasan Bimbingan Konseling. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. 17
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 19
DAFTAR PUSTAKA 20


BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Bimbingan konseling adalah pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu untuk memecahkan masalah kehidupanya dengan cara yang sesuai dengan keadaan individu yang di alami untuk mencapai kesejahteraan hidupnya.
Adanya bimbingan konseling pada pendidikan,juga perlu kita pelajari tentang landasan bimbingan konseling.Landasan dalam bimbingan konseling merupakan faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangakan khususnya oleh konselator selaku pelaksana utama dalam melayani bimbingan konseling. Di ibaratkan dengan suatu meja dan kursi yang tak akan mampu berdiri jika tidak ada tiang yang kuat dan kokoh untuk menjadi suatu meja dan kursi yang sempurna.Demikian pula dengan bimbingan konseling,apabila dia ambruk maka akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan konseling itu sendiri,dan yang menjadi korbanya adalah individu yang ingin dilayani atau klien.

  1. Rumusan Masalah
  1. Apakah yang dimaksud dengan landasan bimbingan dan konseling ?
  2. Apa saja landasan-landasan yang terdapat di Bimbingan Konseling?
  3. Apa Hubungan Antar landasan Bimbingan Konseling

  1. Tujuan
  1. Untuk mengetahui landasan-landasan yang ada dalam bimbingan konseling
  2. Untuk mengetahui pentingnya mempelajari landasan bimbingan koseling
  3. Untuk mengetahui Antar landasan Bimbingan Konseling




BAB II
PEMBAHASAN

  1. Landasan Bimbingan Konseling
Landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan, seperti landasan dalam pengembangan kurikulum, landasan pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan secara umum.
Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling. Ibarat sebuah bangunan, untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh, maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. Demikian pula, dengan layanan bimbingan dan konseling, apabila tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien).
Ada beberapa landasan bimbingan dan konseling, yaitu Landasan filosofis, landasan religius, landasan psikologi, landasan sosial budaya, landasan sosiologis, serta landasan pedagogis.1
  1. Landasan Filosofis
Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman bagi konseler dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan konseling yang lebih dapat dipertanggung jawabkan secara logis, etis, maupun estetis. Landasan filosofis dalam bimbingan konseling berkenaan dengan mencari jawaban yang benar atas pertanyaan tentang filosofis : apakah manusia itu?. Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut, tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada, mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern. Dari berbagai aliran filsafat yang ada. Para penulis barat (Victor Frankl, Patterson,Aalblaster dan Lukes, Thompson dan Rudolph, dalam Prayitno, 2003 ) telah mendiskripsikan manusia sebagai berikut :
  1. Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berpikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya.
  2. Manusia dapat belajar mengatasi masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuang yang da pada diriya.
  3. Manusia terus berusaha mengembangkan dan menjadikan dirinya sendri dengan pendidikan.
  4. Manusia dilahirkan dengan potensi menjadi baik dan buruk,dan hidup berarti untuk berupaya menjadi baik dan mengontrol keburukan.
  5. Manusia memiliki dimendi fisik,psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam.
  6. Manusia akan menjalani kebahagiaanya
  7. Manusia mengarahkan kehidupannya sendiri
  8. Manusia adalah bebas merdeka untuk memilih kehidupan mereka sendiri
  9. Manusia pada hakikatnya positif,berada dalm keadaan sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu.2
Dengan demikian pada hakikatnya manusia tersebut dalam upaya bimbingan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri.
  1. Landasan Historis
Landasan Historis bimbingan dan konseling di Indonesia berbeda dengan di Amerika. Layanan bimbingan dan konseling di Indonesia telah mulai di bicarakan secara terbuka sejak tahun 1962. Hal ini ditandai dengan adanya perubahan system pendidikan di SMA, yaitu terjadinya perubahan nama menjadi SMA Gaya Baru, dan berubahnya waktu penjurusan, yang awalnya di kelas I menjadi di kelas II.
Program penjurusan ini merupakan respon akan kebutuhan untuk menyalurkan para siswa ke jurusan yang tepat bagi dirinya secara perorangan. Dalam rencana Pelajaran SMA Gaya Baru, diantaranya di tegaskan sebagai berikut :
  1. Di kelas I setiap pelajar diberi kesempatan untuk lebih mengenal bakat dan minatnya, dengan jalan menjelajahi segala jenis mata pelajaran yang ada di SMA, dan dengan bimbingan penyuluhan yang teliti dari para guru maupun orang tua.
  2. Dengan mempergunakan peraturan kenaikan kelas dan bahan-bahan catatan dalam kartu priba disetiap murid, para pelajar disalurkan ke kelas II kelompok khusus : Budaya, Sosial, Pasti dan Pengetahuan Alam.
  3. Untuk kepentingan tersebut, maka pengisian kartu pribadi murid harus dilaksanakan seteliti-telitinya.
Perumusan dan pencantuman resmi di dalam rencana pembelajaran di SMA ini disusul dengan berbagai kegiatan pengembangan layanan bimbingan dan konseling di sekolah, seperti rapat kerja, penataran dan lokakarya. Puncak dari usaha ini adalah didirikannya jurusan bimbingan dan penyuluhan di Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Negeri. Salah satu yang membuka Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan adalah IKIP Bandung pada tahun 1963, yang sekarang berganti nama yaitu Universitas Pendidikan Indonesia.
Peran bimbingan kembali mendapat perhatian setelah diperkenalkannya gagasan sekolah pembangunan pada tahun 1970/ 1971. Gagasan pembangunan ini kemudian dituangkan dalam program Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan (SMPP), yang berupa proyek percobaan dan peralihan dari system persekolahan lama menjadi sekolah pembangunan. Pembentukan SMPP ini dimaktubkan dalam surat keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan Nomor 0199/0/1973. Dalam melaksanakan bimbingan dan penyuluhan di SMPP ini badan pengembangan Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan telah menyusun Program Bimbingan dan penyuluhan SMPP.
Usaha mewujudkan system sekolah pembangunan tersebut dilaksanakan melalui proyek pembaharuan pendidikan, yang diberi nama Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP). PPSP ini diujicobakan di delapan IKIP, yang diantaranya adalah IKIP Bandung dan Jakarta. Badan pengembangan pendidikan, melalui lokakarya-lokakarya telah berhasil menyusun dua naskah penting dalam sejarah perkembangan layanan bimbingan dan konseling, yaitu sebagai berikut:
    1. Pola dasar rencana dan pengembangan program bimbingan dan penyuluhan melalui proyek-proyek perintis sekolah pembangunan.
    2. Pedoman operasional pelayanan bimbingan pada proyek-proyek perintis sekolah pembangunan.
Secara formal bimbingan dan konseling diprogramkan di sekolah sejak berlakunya kurikulum 1975, yang menyatakan bahwa bimbingan dan penyuluhan merupakan bagian integral dalam pendidikan di sekolah. Pada tahun 1975 berdiri Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) di Malang. IPBI ini memberi pengaruh yang sangat berarti terhadap perluasan program bimbingan di sekolah.
Setelah melalui upaya penataan, dalam dekade 80-an bimbingan diupayakan agar lebih maju untuk mewujudkan layanan bimbingan yang professional, yang mana dalam dekade ini lebih mengarah pada profesionalisasi yang lebih baik. Yaitu dengan cara penyempurnaan kurikulum. Dari kurikulum 1975 ke Kurikulum 1984 yang telah ditambah bimbingan karir di dalamnya.
Usaha memantapkan bimbingan terus dilanjutkan dengan diberlakunya UU No. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa:” pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.”
Posisi bimbingan yang termaktub dalam undang-undang No.2 di atas diperkuat dengan Peraturan Pemerintah (PP) No.28 Bab X Pasal 25/1990 dan PP No.29 Bab X pasal 27/1990 yang menyatakan bahwa” Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan.”
Penataan bimbingan terus dilanjutkan dengan dikeluarkannya SK Menpan No. 84/1993 tentang  Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Dalam pasal 3 disebutkan tugas pokok guru adalah menyusun program bimbingan, melaksanakan program bimbingan, evaluasi pelaksanaan bimbingan, analisis hasil pelaksanaan bimbingan, dan tindak lanjut dalam program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya.
Pada tahun yang sama juga keluar Surat Keputusan Bersama Mendikbud dengan Kepala BAKN No. 0433/P/1993 dan No. 26 tahun 1993 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, yang tercantum pada Bab III Pasal 4 ayat 1,2, dan 3 yaitu sebagai berikut:
  1. Standar prestasi kerja guru pratama sampai guru dewasa tingkat I dalam melaksanakan PBM atau Bimbingan meliputi hal berikut:
  1. Persiapan program pengajaran atau praktik atau bimbingan dan konseling (BK).
  2. Penyajian program pengajaran atau praktik atau bimbingan dan konseling.
  3. Evaluasi program pengajaran atau praktik atau bim bimbingan dan konseling.
  1. Standar prestasi kerja guru Pembina sampai guru utama selain tersebut pada ayat 1 ditambah dengan hal berikut:
  1. Analisis hasil evaluasi pengajaran atau praktik atau BK.
  2. Penyusunan program perbaikan dan pengayaan atau tindak lanjut pelaksanaan BK.
  3. Pengembangan profesi dengan angka kredit sekurang-kurangnya 12 (dua belas).
    1. Khusus standar prestasi kerja guru kelas, selain tersebut pada ayat 1 atau ayat 2, sesuai dengan jenjang jabatannya ditambah melaksanakan program BK di kelas yang menjadi tanggung jawab.
Pada tahun 2001 nama organisasi Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) berubah menjadi Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia (ABKIN), sehingga menjadikan perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia menjadi semakin bagus (mantap). Pemunculan nama ini dilandasi oleh pemkiran bahwa bimbingan dan konselingan harus tampil sebagai profesi yang mendapat pengakuan dan kepercayaan public.
Berdasarkan penelaahan yang cukup kritis terhadap perjalanan historis gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia, Prayitno mengemukakan bahwa periodesasi perkembangan gerakan bimbingan dan penyuluhan di Indonesia melalui lima periode, yaitu: periode prawacana, pengenalan, pemasyarakatan, konsolidasi, dan tinggal landas.
  1. Landasan Sosial-Budaya
Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. Sejak lahirnya, ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosial-budaya yang ada di sekitarnya. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya.
Lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. Apabila perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak “dijembatani”, maka tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal, yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya.
Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien, yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya, yaitu :
  1. perbedaan bahasa
  2. komunikasi non-verbal
  3. stereotipe
  4. kecenderungan menilai
  5. kecemasan.
Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihak-pihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda, dan bahkan mungkin bertolak belakang. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock, yang menyebabkan dia tidak tahu sama sekali apa, dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. Agar komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis, maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi.
Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia, Moh. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural, bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika, yaitu kesamaan di atas keragaman. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik.
  1. Landasan Religius
Agama (Religion) berasal dari kata Latin “religio”, berarti “tie-up”. Dalam bahasa Inggris, Religion dapat diartikan “having engaged ‘God’ atau ‘The Sacred Power’. Secara umum di Indonesia, Agama dipahami sebagai sistem kepercayaan, tingkah laku, nilai, pengalaman dan yang terinstitusionalisasi, diorientasikan kepada masalah spiritual/ritual yang diterapkan dalam sebuah komunitas dan diwariskan antar generasi dalam tradisi.
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk religious itu dapat di lihat dari dimensi spiritual.Yakin bahwa manusia adalah makhluk Tuhan mengisyaratkan pada derajat dan keindahan manusia itu sendiri terlihat dari peranan manusia sebagaI Khalifah di bumi.
Al-Qur’an surat At-Tiin ayat 4 menegaskan yang artinya sebagai berikut:
Sesungguhnya kami telah menciptakan seseorang manusia dengan sebaik-baik bentuk.”
Landasan religious dalam bimbingan konseling ini hanya ingin menetapkan klien sebagai mahkluk Allah Swt atau makhluk Tuhanya. Oleh karena itu,sebagai konseler kita harus berhati-hati terlebih kita menjumpai dengan klien yang beraga islam kita harus merujuk kepada ajaran islam yaitu Al-Qur’an.
Ditegaskan pula oleh Moh. Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi.
Melalui pendekatan agama seorang konselor akan mampu mengatasi permasalahan apapun yang dihadapi klien/siswanya. Karena agama mengatur segala kehidupan manusia, seperti mengatur bagaimana supaya hidup dalam ketentraman batin/jiwa atau dengan kata lain bahagia di dunia dan akherat.
Pemahaman agama di sekolah sangat penting untuk pembinaan dan penyempurnaan pertumbuhan kepribadian anak didik, karena pendidikan agama mempunyai dua aspek penting yaitu :
  1. Aspek pertama dari pendidikan agama, adalah ditujukan kepada jiwa atau pembentukan kepribadian.
  2. Aspek kedua dari pendidikan agama, adalah ditujukan kepada pikiran atau pengajaran agama itu sendiri.
Ada beberapa peran agama dalam kesehatan mental, antara lain :
    1. Dengan agama dapat memberikan bimbingan dalam hidup
    2. Aturan agama dapat menentramkan batin.
    3. Ajaran agama sebagai penolong dalam kebahagiaan hidup
    4. Ajaran agama sebagai pengendali moral
    5. Agama dapat menjadi terapi jiwa
    6. Agama sebagai pembinaan mental
Dalam landasan religius BK diperlukan penekanan pada 3 hal pokok :
  1. Manusia sebagai Mahluk Tuhan
Manusia adalah mahluk Tuhan yang memiliki sisi-sisi kemanusiaan. Sisi-sisi kemanusiaan tersebut tidak boleh dibiarkan agar tidak mengarah pada hal-hal negatif. Perlu adanya bimbingan yang akan mengarahkan sisi-sisi kemanusiaan tersebut pada hal-hal positif.
  1. Sikap Keberagamaan
Agama yang menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat menjadi isi dari sikap keberagamaan. Sikap keberagamaan tersebut pertama difokuskan pada agama itu sendiri, agama harus dipandang sebagai pedoman penting dalam hidup, nilai-nilainya harus diresapi dan diamalkan. Kedua, menyikapi peningkatan iptek sebagai upaya lanjut dari penyeimbang kehidupan dunia dan akhirat.
  1. Peranan Agama
Pemanfaatan unsur-unsur agama hendaknya dilakukan secara wajar, tidak dipaksakan dan tepat menempatkan klien sebagai seorang yang bebas dan berhak mengambil keputusan sendiri, sehingga agama dapat berperan positif dalam konseling yang dilakukan.
Agama sebagai pedoman hidup  memiliki fungsi :
  1. Memelihara fitrah
  2. Memelihara jiwa
  3. Memelihara akal
  4. Memelihara keturunan
Dalam landasan religius BK diperlukan penekanan pada 3 hal pokok:
  1. Keyakinan bahwa mnusia dan seluruh alam adalah mahluk tuhan
  2. Sikap yang mendorong perkembangan dan perikehidupan manusia berjalan kearah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama
  3. Upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya serta kemasyarakatan yang sesuai dengan kaidah-kaidah agama untuk membentuk perkembangan dan pemecahan masalah individu
  1. Landasan Sosiologis
Pengertian Landasan Sosiologi
Dasar sosiologis berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan dan karakteristik masayarakat.Sosiologi pendidikan merupakan analisi ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiolagi pendidikan meliputi empat bidang:
  1. Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain yang mempelajari :
  1. Fungsi pendidikan dalam kebudayaan
  2. Hubungan sistem pendidikan dan proses kontrol sosial dan sistem kekuasaan
  3. Fungsi sistem pendidikan dalam memelihara dan mendorong proses sosial dan perubahan kebudayaan
  4. Fungsionalisasi sistem pendidikan formal dalam hubungannya dengan ras, kebudayaan,atau kelompok-kelompok dalam masyarakat
  1. Hubungan kemanusiaan di sekolah yang meliputi :
  1. Sifat kebudayaan sekolah khususnya yang berbeda dengan kebudayaan di luar sekolah
  2. Pola interaksi sosial atau struktur masyarakat sekolah
  1. Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya, yang mempelajari:
  1. Peranan sosial guru
  2. Sifat kepribadian guru
  3. Pengaruh kepribadian guru terhadap tingkah laku siswa
  4. Fungsi sekolah dalam sosialisasi anak-anak
  1. Sekolah dalam komunitasnya yang mempelajari pola interaksi anatara sekolah dengan kelompok sosial lainnya di dalam komunitas:
  1. Pelukisan tentang komunitas seperti tampak dalam pengaruhnya terhadap organisasi lainnya
  2. Analisis tentang proses pendidikan seperti tampak terjadi pada sistem sosial komunitas kaum tidak terpelajar
  3. Hubungan antara sekolah dan komunitas dalam fungsi kependidikan
  4. Faktor-faktor demografi dan ekologi dalam hubungannya dengan organisasi lainnya.
  1. Landasan Psikologis
Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). Untuk kepentingan bimbingan dan konseling, beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi; (b) pembawaan dan lingkungan, (c) perkembangan individu; (d) belajar; dan (e) kepribadian.
  1. Motif dan Motivasi
Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir, seperti : rasa lapar, bernafas dan sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar, seperti rekreasi, memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan,– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–, menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan.
    1. Pembawaan dan Lingkungan
Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan, yang mencakup aspek psiko-fisik, seperti struktur otot, warna kulit, golongan darah, bakat, kecerdasan, atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. Misalnya dalam kecerdasan, ada yang sangat tinggi (jenius), normal atau bahkan sangat kurang (debil, embisil atau ideot). Demikian pula dengan lingkungan, ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang memadai, sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. Namun ada pula individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik.dan menjadi tersia-siakan.
    1. Perkembangan Individu
Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya, diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral dan sosial. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan, diantaranya : (1) Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan individu; (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual; (3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial; (4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif; (5) teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral; (6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier; (7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial; dan (8) Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa.
Dalam menjalankan tugas-tugasnya, konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan, serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan.
    1. Belajar
Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. Manusia belajar untuk hidup. Tanpa belajar, seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya, dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan, baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotor/keterampilan. Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar, baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar sebelumnya.
Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa dijadikan rujukan, diantaranya adalah : (1) Teori Belajar Behaviorisme; (2) Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan Informasi; dan (3) Teori Belajar Gestalt. Dewasa ini mulai berkembang teori belajar alternatif konstruktivisme.
    1. Kepribadian
Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif.. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Allport (Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. Berangkat dari studi yang dilakukannya, akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi dan konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan.
Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya, misalnya konstitusi dan kondisi fisik, tampang, hormon, segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh, sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu, terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal, diantaranya : Teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud, Teori Analitik dari Carl Gustav Jung, Teori Sosial Psikologis dari Adler, Fromm, Horney dan Sullivan, teori Personologi dari Murray, Teori Medan dari Kurt Lewin, Teori Psikologi Individual dari Allport, Teori Stimulus-Respons dari Throndike, Hull, Watson, Teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. Sementara itu, Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian, yang mencakup :
    1. Karakter; yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
    2. Temperamen; yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan.
    3. Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif atau ambivalen.
    4. Stabilitas emosi; yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Seperti mudah tidaknya tersinggung, sedih, atau putus asa.
    5. Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau menerima resiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi.
    6. Sosiabilitas; yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya (klien). Selain itu, seorang konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya. Begitu pula, konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan kliennya. Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien, konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar yang mendasarinya. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian klien, konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian kliennya. Oleh karena itu, agar konselor benar-benar dapat menguasai landasan psikologis, setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasai dengan baik, yaitu bidang psikologi umum, psikologi perkembangan, psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian.
  1. Landasan Pedagogis
Ketika seorang melakukan praktik pelayanan bimbingan konseling berarti seseorang itu sedang mendidik. Landasan pedagogis pelayanan bimbingan konseling berkaitan dengan :
  1. Pendidkan sebagai upaya pengembangan manusia dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan
  2. Pendidikan sebagai inti proses bimbingan konseling
  3. Pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan bimbingan konseling
Pendidikan itu merupakan salah satu lembaga sosial yang universal dan berfungsi sebagai sarana reproduksi sosial ( Budi Santoso, 1992)
Bimbingan dan konseling itu identik dengan pendidikan. Artinya ketka seseorang melakukan praktik bimbingan dan konseling berarti ia sedang mendidik., dan begitupula sebaliknya. Pendidikan itu merupakan salah satu lembaga sosial yang universal dan berfungsi sebagai sarana reproduksi sosial ( Budi Santoso, 1992)
Landasan pedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi, yaitu:
  1. Pendidikan sebagai upaya pengembangan Individu: Bimbingan merupakan bentuk upaya pendidikan
Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Seorang bagi manusia hanya akan dapat menjadi manusia sesuai dengan tuntutan budaya hanya melalui pendidikan. Tanpa pendidikan, bagi manusia yang telah lahir itu tidak akan mampu memperkembangkan dimensi keindividualannya, kesosialisasinya, kesosilaanya dan keberagamaanya.
Undang-Undang No. 2 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 1 ayat (1) ditegaskan bahwa :
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Tujuan bimbingan dan konseling tidak boleh menyimpang dengan tujuan pendidikan nasional,yakni yang terdapat dalam Undang-Undang No. 20/2003 juga, disebutkan bahwa :
Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Integrasi bimbingan dan konseling dengan pendidikan juga tampak dari dimasukkannya secara berkesinambungan berbagai program pelayanan bimbingan dan konseling ke dalam program-program sekolah dan madrasah.
  1. Pendidikan sebagai inti Proses Bimbingan Konseling
Indikator utama yang menandai adanya pendidikan ialah peserta didik yang terlibat di dalamnya menjalani proses belajar  dan kegiatan bimbingan konseling bersifat normatif.
Bimbingan dan konseling mengembangkan proses belajar yang dijalani oleh klien-kliennya. Kesadaran ini telah tampil sejak pengembangan gerakan Bimbingan dan Konseling secara meluas di Amerika Serikat . pada tahun 1953, Gistod telah menegaskan Bahwa Bimbingan dan Konseling adalah proses yang berorientasi pada belajar……, belajar untuk memahami lebih jauh tentang diri sendiri, belajar untuk mengembangkan dan merupakan secara efektif berbagai pemahaman.. (dalam Belkin, 1975). Lebih jauh, Nugent (1981) mengemukakan bahwa dalam konseling klien mempelajari ketrampilan dalam pengambilan keputusan. Pemecahan masalah, tingkah laku, tindakan, serta sikap-sikap baru . Dengan belajar itulah klien memperoleh berbagai hal yang baru bagi dirinya; dengan memperoleh hal-hal baru itulah klien berkembang.
  1. Pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan Bimbingan tujuan dan konseling
Bimbingan dan konseling mempunyai tujuan khusus ( jangka pendek ) dan tujuan umum ( jangka panjang ). Mengutip pendapat Crow and Crow, Prayitno dan Erman Amti menyatakan bahwa tujuan khusus dalam pelayanan bimbingan dan konseling ialah membantu individu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya, sedangkan tujuan umumnya ialah bimbingan itu sendiri.
Tujuan Bimbingan dan Konseling disamping memperkuat tujuan-tujuan pendidikan, juga menunjang proses pendidikan pada umumnya. Hal itu dapat dimengerti karena program-program bimbingan dan konseling meliputi aspek-aspek tugas perkembangan individu, khususnya yang menyangkut kawasan kematangan pendidikan karier, Kematangan personal dan emosional, serta kematangan sosial, semuanya untuk peserta didik pada jenjang pendidikan dasar (SD dan SLTP) dan pendidikan menengah (Borders dan Drury, 1992). Hasil-hasil bimbingan dan konseling pada kawasan itu menunjang keberhasilan pendidikan pada umumnya.
  1. Hubungan Antar landasan Bimbingan dan Konseling
Pelayanan bimbingan dan konseling memerlukan sejumlah landasan sebagai dasar yang kokoh dalam penyelenggaraannya. Landasan-landasan itu saling berkaitan dan berpengaruh satu sama lain. Landasan historis adalah landasan yang mengawali penyebaran kegiatan bimbingan dan konseling di dunia, sebagai suatu langkah sadar dalam meningkatkan sumber daya manusia.
Landasan filosofis memberikan sumbangan yang sangat berati dalam pelayanan bimbingan dan konseling agar konselor dapat memahami hakikat, tujuan dan tugas hidup manusia, Landasan sosial budaya adalah landasan yang memengaruhi proses bimbingan konseling dalam ruang lingkup sosial budaya, sebagai salah satu instrumen penting dalam pembentukan perilaku individu. Landasan psikologis meninjau dasar keperluan bimbingan dan konseling dengan konsep psikologis, yang menjelaskan tentang kepribadian manusia. Landasan religius adalah landasan yang mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam proses bimbingan dan konseling.
Landasan-landasan tersebut memberikan pondasi yang kokoh terhadap penyelenggaraan bimbingan dan konseling dalam rangka peningkatan sumber daya manusia untuk mencapai hidup yang lebih sejahtera.












BAB III
PENUTUP
      1. Kesimpulan

Bahwasannya landasan dalam bimbingan konseling merupakan faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangakan khususnya oleh konselator selaku pelaksana utama dalam melayani bimbingan konseling. Ada beberapa landasan bimbingan dan konseling, yaitu Landasan filosofis, landasan religius, landasan psikologi, landasan sosial budaya, landasan sosiologis, serta landasan pedagogis.3
Landasan-landasan tersebut memberikan pondasi yang kokoh terhadap penyelenggaraan bimbingan dan konseling dalam rangka peningkatan sumber daya manusia untuk mencapai hidup yang lebih sejahtera. Disamping itu Bimbingan dan Konseling juga dapat memperkuat tujuan-tujuan pendidikan, juga menunjang proses pendidikan pada umumnya.

1 Prayitno dan Erman Amti. 2004. Dasar-DasarBimbingan dan Konseling. Jakarta : PT Rineka Cipta.

2 Aqib Zainal, Ikhtisar Bimbingan dan konseling di sekolah (Bandung, Yrama Widya:2012) hal:17-18


3 Prayitno dan Erman Amti. 2004. Dasar-DasarBimbingan dan Konseling. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar