KATA
PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim
Puji syukur Alhamdulillah kami
ucapkan kehadirat Allah SWT. Yang telah melimpahkan rahmat, taufiq
serta hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas penyusun
makalah pada mata kuliah Pengembangan Kurikulum ini yang berjudul
“Landasan
Bimbingan Konseling”.
Shalawat serta salam semoga tetap
terlimpahkan pada junjungan kita baginda Nabi MUHAMMAD SAW, yang
telah menuntun kita dari suatu masa yang gelap gulita menuju masa
yang terang benderang, melalui ajaran agama Islam.
Penghargaan yang setinggi-tingginya
kami sampaikan kepada dosen pembimbing kami Husni
Abdillah, M.Pd.I,
yang telah membimbing kami dengan baik, dalam studi Bimbingan
Konseling ini.
Segenap penulis berharap agar makalah
ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis
khususnya.
Tentunya dalam makalah ini masih
banyak terdapat kekurangan,mengingat masih sama-sama belajar. Maka
dari itu, kami sebagai penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun demi pertimbangan perbaikan bagi kami. Semoga Allah
selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada kita. Amiin.
Surabaya,8
Maret 2015
(Penyusun)
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL i
KATA
PENGANTAR ii
DAFTAR
ISI iii
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang 1
B. Rumusan
Masalah 1
C. Tujuan
Penulisan 1
BAB
II PEMBAHASAN
- Landasan Bimbingan Konseling 2
- Landasan Filosofis 2
- Landasan Historis 3
- Landasan Sosial Budaya 6
- Landasan Religius 8
- Landasan Sosiologis 10
- Landasan Psikologis 11
- Landasan Pedagogis 15
- Hubungan Antar landasan Bimbingan Konseling. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. 17
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpulan 19
DAFTAR
PUSTAKA 20
BAB
I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Bimbingan konseling adalah
pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu
untuk memecahkan masalah kehidupanya dengan cara yang sesuai dengan
keadaan individu yang di alami untuk mencapai kesejahteraan hidupnya.
Adanya bimbingan konseling pada
pendidikan,juga perlu kita pelajari tentang landasan bimbingan
konseling.Landasan dalam bimbingan konseling merupakan faktor yang
harus diperhatikan dan dipertimbangakan khususnya oleh konselator
selaku pelaksana utama dalam melayani bimbingan konseling. Di
ibaratkan dengan suatu meja dan kursi yang tak akan mampu berdiri
jika tidak ada tiang yang kuat dan kokoh untuk menjadi suatu meja dan
kursi yang sempurna.Demikian pula dengan bimbingan konseling,apabila
dia ambruk maka akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan
bimbingan konseling itu sendiri,dan yang menjadi korbanya adalah
individu yang ingin dilayani atau klien.
- Rumusan Masalah
- Apakah yang dimaksud dengan landasan bimbingan dan konseling ?
- Apa saja landasan-landasan yang terdapat di Bimbingan Konseling?
- Apa Hubungan Antar landasan Bimbingan Konseling
- Tujuan
- Untuk mengetahui landasan-landasan yang ada dalam bimbingan konseling
- Untuk mengetahui pentingnya mempelajari landasan bimbingan koseling
- Untuk mengetahui Antar landasan Bimbingan Konseling
BAB
II
PEMBAHASAN
- Landasan Bimbingan Konseling
Landasan dalam
bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan
landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan, seperti
landasan dalam pengembangan kurikulum, landasan pendidikan non formal
atau pun landasan pendidikan secara umum.
Landasan dalam
bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang
harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku
pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling.
Ibarat sebuah bangunan, untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu
membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama. Apabila bangunan
tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh, maka bangunan itu akan
mudah goyah atau bahkan ambruk. Demikian pula, dengan layanan
bimbingan dan konseling, apabila tidak didasari oleh fundasi atau
landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan
bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya
adalah individu yang dilayaninya (klien).
Ada beberapa
landasan bimbingan dan konseling, yaitu Landasan filosofis, landasan
religius, landasan psikologi, landasan sosial budaya, landasan
sosiologis, serta landasan pedagogis.1
- Landasan Filosofis
Landasan filosofis merupakan
landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman bagi konseler
dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan konseling yang lebih
dapat dipertanggung jawabkan secara logis, etis, maupun estetis.
Landasan filosofis dalam bimbingan konseling berkenaan dengan mencari
jawaban yang benar atas pertanyaan tentang filosofis : apakah manusia
itu?.
Untuk menemukan
jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut, tentunya tidak dapat
dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada, mulai dari
filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat
post-modern. Dari berbagai aliran filsafat yang ada.
Para penulis barat (Victor Frankl, Patterson,Aalblaster dan Lukes,
Thompson dan Rudolph, dalam Prayitno, 2003 )
telah mendiskripsikan manusia sebagai berikut :
- Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berpikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya.
- Manusia dapat belajar mengatasi masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuang yang da pada diriya.
- Manusia terus berusaha mengembangkan dan menjadikan dirinya sendri dengan pendidikan.
- Manusia dilahirkan dengan potensi menjadi baik dan buruk,dan hidup berarti untuk berupaya menjadi baik dan mengontrol keburukan.
- Manusia memiliki dimendi fisik,psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam.
- Manusia akan menjalani kebahagiaanya
- Manusia mengarahkan kehidupannya sendiri
- Manusia adalah bebas merdeka untuk memilih kehidupan mereka sendiri
- Manusia pada hakikatnya positif,berada dalm keadaan sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu.2
Dengan demikian pada hakikatnya
manusia tersebut dalam upaya bimbingan konseling diharapkan tidak
menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri.
- Landasan Historis
Landasan Historis bimbingan dan
konseling di Indonesia berbeda dengan di Amerika. Layanan bimbingan
dan konseling di Indonesia telah mulai di bicarakan secara terbuka
sejak tahun 1962. Hal ini ditandai dengan adanya perubahan system
pendidikan di SMA, yaitu terjadinya perubahan nama menjadi SMA Gaya
Baru, dan berubahnya waktu penjurusan, yang awalnya di kelas I
menjadi di kelas II.
Program
penjurusan ini merupakan respon akan kebutuhan untuk menyalurkan para
siswa ke jurusan yang tepat bagi dirinya secara perorangan. Dalam
rencana Pelajaran SMA Gaya Baru, diantaranya di tegaskan sebagai
berikut :
- Di kelas I setiap pelajar diberi kesempatan untuk lebih mengenal bakat dan minatnya, dengan jalan menjelajahi segala jenis mata pelajaran yang ada di SMA, dan dengan bimbingan penyuluhan yang teliti dari para guru maupun orang tua.
- Dengan mempergunakan peraturan kenaikan kelas dan bahan-bahan catatan dalam kartu priba disetiap murid, para pelajar disalurkan ke kelas II kelompok khusus : Budaya, Sosial, Pasti dan Pengetahuan Alam.
- Untuk kepentingan tersebut, maka pengisian kartu pribadi murid harus dilaksanakan seteliti-telitinya.
Perumusan
dan pencantuman resmi di dalam rencana pembelajaran di SMA ini
disusul dengan berbagai kegiatan pengembangan layanan bimbingan dan
konseling di sekolah, seperti rapat kerja, penataran dan lokakarya.
Puncak dari usaha ini adalah didirikannya jurusan bimbingan dan
penyuluhan di Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP (Institut Keguruan dan
Ilmu Pendidikan) Negeri. Salah satu yang membuka Jurusan Bimbingan
dan Penyuluhan adalah IKIP Bandung pada tahun 1963, yang sekarang
berganti nama yaitu Universitas Pendidikan Indonesia.
Peran
bimbingan kembali mendapat perhatian setelah diperkenalkannya gagasan
sekolah pembangunan pada tahun 1970/ 1971. Gagasan pembangunan ini
kemudian dituangkan dalam program Sekolah Menengah Pembangunan
Persiapan (SMPP), yang berupa proyek percobaan dan peralihan dari
system persekolahan lama menjadi sekolah pembangunan. Pembentukan
SMPP ini dimaktubkan dalam surat keputusan menteri pendidikan dan
kebudayaan Nomor 0199/0/1973. Dalam melaksanakan bimbingan dan
penyuluhan di SMPP ini badan pengembangan Pendidikan Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan telah menyusun Program
Bimbingan dan penyuluhan SMPP.
Usaha
mewujudkan system sekolah pembangunan tersebut dilaksanakan melalui
proyek pembaharuan pendidikan, yang diberi nama Proyek Perintis
Sekolah Pembangunan (PPSP). PPSP ini diujicobakan di delapan IKIP,
yang diantaranya adalah IKIP Bandung dan Jakarta. Badan pengembangan
pendidikan, melalui lokakarya-lokakarya telah berhasil menyusun dua
naskah penting dalam sejarah perkembangan layanan bimbingan dan
konseling, yaitu sebagai berikut:
- Pola dasar rencana dan pengembangan program bimbingan dan penyuluhan melalui proyek-proyek perintis sekolah pembangunan.
- Pedoman operasional pelayanan bimbingan pada proyek-proyek perintis sekolah pembangunan.
Secara
formal bimbingan dan konseling diprogramkan di sekolah sejak
berlakunya kurikulum 1975, yang menyatakan bahwa bimbingan dan
penyuluhan merupakan bagian integral dalam pendidikan di sekolah.
Pada tahun 1975 berdiri Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) di
Malang. IPBI ini memberi pengaruh yang sangat berarti terhadap
perluasan program bimbingan di sekolah.
Setelah
melalui upaya penataan, dalam dekade 80-an bimbingan diupayakan agar
lebih maju untuk mewujudkan layanan bimbingan yang professional, yang
mana dalam dekade ini lebih mengarah pada profesionalisasi yang lebih
baik. Yaitu dengan cara penyempurnaan kurikulum. Dari kurikulum 1975
ke Kurikulum 1984 yang telah ditambah bimbingan karir di dalamnya.
Usaha
memantapkan bimbingan terus dilanjutkan dengan diberlakunya UU No.
2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam pasal 1 ayat 1
disebutkan bahwa:” pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan
peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau
latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.”
Posisi
bimbingan yang termaktub dalam undang-undang No.2 di atas diperkuat
dengan Peraturan Pemerintah (PP) No.28 Bab X Pasal 25/1990 dan PP
No.29 Bab X pasal 27/1990 yang menyatakan bahwa” Bimbingan
merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya
menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan.”
Penataan
bimbingan terus dilanjutkan dengan dikeluarkannya SK Menpan No.
84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka
Kreditnya. Dalam pasal 3 disebutkan tugas pokok guru adalah menyusun
program bimbingan, melaksanakan program bimbingan, evaluasi
pelaksanaan bimbingan, analisis hasil pelaksanaan bimbingan, dan
tindak lanjut dalam program bimbingan terhadap peserta didik yang
menjadi tanggung jawabnya.
Pada
tahun yang sama juga keluar Surat Keputusan Bersama Mendikbud dengan
Kepala BAKN No. 0433/P/1993 dan No. 26 tahun 1993 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, yang
tercantum pada Bab III Pasal 4 ayat 1,2, dan 3 yaitu sebagai berikut:
- Standar prestasi kerja guru pratama sampai guru dewasa tingkat I dalam melaksanakan PBM atau Bimbingan meliputi hal berikut:
- Persiapan program pengajaran atau praktik atau bimbingan dan konseling (BK).
- Penyajian program pengajaran atau praktik atau bimbingan dan konseling.
- Evaluasi program pengajaran atau praktik atau bim bimbingan dan konseling.
- Standar prestasi kerja guru Pembina sampai guru utama selain tersebut pada ayat 1 ditambah dengan hal berikut:
- Analisis hasil evaluasi pengajaran atau praktik atau BK.
- Penyusunan program perbaikan dan pengayaan atau tindak lanjut pelaksanaan BK.
- Pengembangan profesi dengan angka kredit sekurang-kurangnya 12 (dua belas).
- Khusus standar prestasi kerja guru kelas, selain tersebut pada ayat 1 atau ayat 2, sesuai dengan jenjang jabatannya ditambah melaksanakan program BK di kelas yang menjadi tanggung jawab.
Pada tahun 2001
nama organisasi Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) berubah
menjadi Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia (ABKIN), sehingga
menjadikan perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia menjadi
semakin bagus (mantap). Pemunculan nama ini dilandasi oleh pemkiran
bahwa bimbingan dan konselingan harus tampil sebagai profesi yang
mendapat pengakuan dan kepercayaan public.
Berdasarkan
penelaahan yang cukup kritis terhadap perjalanan historis gerakan
bimbingan dan konseling di Indonesia, Prayitno mengemukakan bahwa
periodesasi perkembangan gerakan bimbingan dan penyuluhan di
Indonesia melalui lima periode, yaitu: periode prawacana, pengenalan,
pemasyarakatan, konsolidasi, dan tinggal landas.
- Landasan Sosial-Budaya
Landasan sosial-budaya merupakan
landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang
dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang
mempengaruhi terhadap perilaku individu. Seorang individu pada
dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup.
Sejak lahirnya, ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan
pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosial-budaya yang ada di
sekitarnya. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat
mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya.
Lingkungan sosial-budaya yang
melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga
menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan
kepribadian individu yang bersangkutan. Apabila perbedaan dalam
sosial-budaya ini tidak “dijembatani”, maka tidak mustahil akan
timbul konflik internal maupun eksternal, yang pada akhirnya dapat
menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu
yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya.
Dalam proses konseling akan terjadi
komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien, yang mungkin
antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang
berbeda. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam
sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan
penyesuain diri antar budaya, yaitu :
- perbedaan bahasa
- komunikasi non-verbal
- stereotipe
- kecenderungan menilai
- kecemasan.
Kurangnya penguasaan bahasa yang
digunakan oleh pihak-pihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan
kesalahpahaman. Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang
berbeda-beda, dan bahkan mungkin bertolak belakang. Stereotipe
cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu
berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya
tidak tepat. Penilaian terhadap orang lain disamping dapat
menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan
reaksi-reaksi negatif. Kecemasan muncul ketika seorang individu
memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing.
Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar
budaya dapat menuju ke culture shock, yang menyebabkan dia tidak tahu
sama sekali apa, dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. Agar
komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin
harmonis, maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu
diantisipasi.
Terkait dengan layanan bimbingan dan
konseling di Indonesia, Moh. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren
bimbingan dan konseling multikultural, bahwa bimbingan dan konseling
dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan
berbudaya plural seperti Indonesia. Bimbingan dan konseling
dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika, yaitu
kesamaan di atas keragaman. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya
lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata
mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik.
- Landasan Religius
Agama (Religion) berasal dari kata
Latin “religio”, berarti “tie-up”. Dalam bahasa Inggris,
Religion dapat diartikan “having engaged ‘God’ atau ‘The
Sacred Power’. Secara umum di Indonesia, Agama dipahami sebagai
sistem kepercayaan, tingkah laku, nilai, pengalaman dan yang
terinstitusionalisasi, diorientasikan kepada masalah spiritual/ritual
yang diterapkan dalam sebuah komunitas dan diwariskan antar generasi
dalam tradisi.
Manusia pada hakikatnya adalah
makhluk religious itu dapat di lihat dari dimensi spiritual.Yakin
bahwa manusia adalah makhluk Tuhan mengisyaratkan pada derajat dan
keindahan manusia itu sendiri terlihat dari peranan manusia sebagaI
Khalifah di bumi.
Al-Qur’an surat At-Tiin ayat 4
menegaskan
yang artinya sebagai berikut:
” Sesungguhnya kami telah
menciptakan seseorang manusia dengan sebaik-baik bentuk.”
Landasan religious dalam bimbingan
konseling ini hanya ingin menetapkan klien sebagai mahkluk Allah Swt
atau makhluk Tuhanya. Oleh karena itu,sebagai konseler kita harus
berhati-hati terlebih kita menjumpai dengan klien yang beraga islam
kita harus merujuk kepada ajaran islam yaitu Al-Qur’an.
Ditegaskan pula oleh Moh. Surya
(2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah
bimbingan dan konseling spiritual. Berangkat dari kehidupan modern
dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan
ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah
menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan
kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. Dewasa ini
sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang
berlandaskan nilai-nilai spiritual. Kondisi ini telah mendorong
kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan
spiritual atau religi.
Melalui pendekatan agama seorang
konselor akan mampu mengatasi permasalahan apapun yang dihadapi
klien/siswanya. Karena agama mengatur segala kehidupan manusia,
seperti mengatur bagaimana supaya hidup dalam ketentraman batin/jiwa
atau dengan kata lain bahagia di dunia dan akherat.
Pemahaman agama di sekolah sangat
penting untuk pembinaan dan penyempurnaan pertumbuhan kepribadian
anak didik, karena pendidikan agama mempunyai dua aspek penting yaitu
:
- Aspek pertama dari pendidikan agama, adalah ditujukan kepada jiwa atau pembentukan kepribadian.
- Aspek kedua dari pendidikan agama, adalah ditujukan kepada pikiran atau pengajaran agama itu sendiri.
Ada beberapa peran agama dalam
kesehatan mental, antara lain :
- Dengan agama dapat memberikan bimbingan dalam hidup
- Aturan agama dapat menentramkan batin.
- Ajaran agama sebagai penolong dalam kebahagiaan hidup
- Ajaran agama sebagai pengendali moral
- Agama dapat menjadi terapi jiwa
- Agama sebagai pembinaan mental
Dalam landasan religius BK diperlukan
penekanan pada 3 hal pokok :
- Manusia sebagai Mahluk Tuhan
Manusia adalah mahluk Tuhan yang
memiliki sisi-sisi kemanusiaan. Sisi-sisi kemanusiaan tersebut tidak
boleh dibiarkan agar tidak mengarah pada hal-hal negatif. Perlu
adanya bimbingan yang akan mengarahkan sisi-sisi kemanusiaan tersebut
pada hal-hal positif.
- Sikap Keberagamaan
Agama yang menyeimbangkan antara
kehidupan dunia dan akhirat menjadi isi dari sikap keberagamaan.
Sikap keberagamaan tersebut pertama difokuskan pada agama itu
sendiri, agama harus dipandang sebagai pedoman penting dalam hidup,
nilai-nilainya harus diresapi dan diamalkan. Kedua, menyikapi
peningkatan iptek sebagai upaya lanjut dari penyeimbang kehidupan
dunia dan akhirat.
- Peranan Agama
Pemanfaatan unsur-unsur agama
hendaknya dilakukan secara wajar, tidak dipaksakan dan tepat
menempatkan klien sebagai seorang yang bebas dan berhak mengambil
keputusan sendiri, sehingga agama dapat berperan positif dalam
konseling yang dilakukan.
Agama sebagai pedoman hidup memiliki
fungsi :
- Memelihara fitrah
- Memelihara jiwa
- Memelihara akal
- Memelihara keturunan
Dalam landasan religius BK diperlukan
penekanan pada 3 hal pokok:
- Keyakinan bahwa mnusia dan seluruh alam adalah mahluk tuhan
- Sikap yang mendorong perkembangan dan perikehidupan manusia berjalan kearah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama
- Upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya serta kemasyarakatan yang sesuai dengan kaidah-kaidah agama untuk membentuk perkembangan dan pemecahan masalah individu
- Landasan Sosiologis
Pengertian Landasan Sosiologi
Dasar sosiologis
berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan dan karakteristik
masayarakat.Sosiologi pendidikan merupakan analisi ilmiah tentang
proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem
pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiolagi pendidikan
meliputi empat bidang:
- Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain yang mempelajari :
- Fungsi pendidikan dalam kebudayaan
- Hubungan sistem pendidikan dan proses kontrol sosial dan sistem kekuasaan
- Fungsi sistem pendidikan dalam memelihara dan mendorong proses sosial dan perubahan kebudayaan
- Fungsionalisasi sistem pendidikan formal dalam hubungannya dengan ras, kebudayaan,atau kelompok-kelompok dalam masyarakat
- Hubungan kemanusiaan di sekolah yang meliputi :
- Sifat kebudayaan sekolah khususnya yang berbeda dengan kebudayaan di luar sekolah
- Pola interaksi sosial atau struktur masyarakat sekolah
- Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya, yang mempelajari:
- Peranan sosial guru
- Sifat kepribadian guru
- Pengaruh kepribadian guru terhadap tingkah laku siswa
- Fungsi sekolah dalam sosialisasi anak-anak
- Sekolah dalam komunitasnya yang mempelajari pola interaksi anatara sekolah dengan kelompok sosial lainnya di dalam komunitas:
- Pelukisan tentang komunitas seperti tampak dalam pengaruhnya terhadap organisasi lainnya
- Analisis tentang proses pendidikan seperti tampak terjadi pada sistem sosial komunitas kaum tidak terpelajar
- Hubungan antara sekolah dan komunitas dalam fungsi kependidikan
- Faktor-faktor demografi dan ekologi dalam hubungannya dengan organisasi lainnya.
- Landasan Psikologis
Landasan psikologis merupakan
landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang
perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). Untuk
kepentingan bimbingan dan konseling, beberapa kajian psikologi yang
perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi;
(b) pembawaan dan lingkungan, (c) perkembangan individu; (d) belajar;
dan (e) kepribadian.
- Motif dan Motivasi
Motif dan motivasi berkenaan dengan
dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer
yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh
individu semenjak dia lahir, seperti : rasa lapar, bernafas dan
sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar,
seperti rekreasi, memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu
dan sejenisnya. Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan
dan digerakkan,– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik)
maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–, menjadi bentuk
perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada
suatu tujuan.
- Pembawaan dan Lingkungan
Pembawaan dan lingkungan berkenaan
dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku
individu. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan
merupakan hasil dari keturunan, yang mencakup aspek psiko-fisik,
seperti struktur otot, warna kulit, golongan darah, bakat,
kecerdasan, atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. Pembawaan pada
dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk
mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana
individu itu berada. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan
berbeda-beda. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan
ada pula yang sedang atau bahkan rendah. Misalnya dalam kecerdasan,
ada yang sangat tinggi (jenius), normal atau bahkan sangat kurang
(debil, embisil atau ideot). Demikian pula dengan lingkungan, ada
individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana
dan prasarana yang memadai, sehingga segenap potensi bawaan yang
dimilikinya dapat berkembang secara optimal. Namun ada pula individu
yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan
sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi
bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik.dan
menjadi tersia-siakan.
- Perkembangan Individu
Perkembangan individu berkenaan
dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak
masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya, diantaranya meliputi
aspek fisik dan psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral
dan sosial. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat
dijadikan sebagai rujukan, diantaranya : (1) Teori dari McCandless
tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan
individu; (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual; (3) Teori
dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial; (4) Teori dari
Piaget tentang perkembangan kognitif; (5) teori dari Kohlberg tentang
perkembangan moral; (6) teori dari Zunker tentang perkembangan
karier; (7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial; dan (8)
Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu
semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa.
Dalam menjalankan tugas-tugasnya,
konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang
dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di
masa depan, serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan
lingkungan.
- Belajar
Belajar merupakan salah satu konsep
yang amat mendasar dari psikologi. Manusia belajar untuk hidup. Tanpa
belajar, seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan
dirinya, dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan
harkat kemanusiaannya. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk
menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada
diri individu. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan
pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan, baik
dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotor/keterampilan. Untuk
terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar, baik berupa
prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil
belajar sebelumnya.
Untuk memahami tentang hal-hal yang
berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa
dijadikan rujukan, diantaranya adalah : (1) Teori Belajar
Behaviorisme; (2) Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan
Informasi; dan (3) Teori Belajar Gestalt. Dewasa ini mulai berkembang
teori belajar alternatif konstruktivisme.
- Kepribadian
Hingga saat ini para ahli tampaknya
masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat dan
komprehensif.. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh
Gordon W. Allport (Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, 2005)
menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda.
Berangkat dari studi yang dilakukannya, akhirnya dia menemukan satu
rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Menurut
pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri
individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik
dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Kata kunci dari
pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Scheneider dalam
Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu
proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental
dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan
emosional, frustrasi dan konflik, serta memelihara keseimbangan
antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma)
lingkungan.
Sedangkan yang dimaksud dengan unik
bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara
individu satu dengan individu lainnya. Keunikannya itu didukung oleh
keadaan struktur psiko-fisiknya, misalnya konstitusi dan kondisi
fisik, tampang, hormon, segi kognitif dan afektifnya yang saling
berhubungan dan berpengaruh, sehingga menentukan kualitas tindakan
atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan
lingkungannya.
Untuk menjelaskan tentang kepribadian
individu, terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak
dikenal, diantaranya : Teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud, Teori
Analitik dari Carl Gustav Jung, Teori Sosial Psikologis dari Adler,
Fromm, Horney dan Sullivan, teori Personologi dari Murray, Teori
Medan dari Kurt Lewin, Teori Psikologi Individual dari Allport, Teori
Stimulus-Respons dari Throndike, Hull, Watson, Teori The Self dari
Carl Rogers dan sebagainya. Sementara itu, Abin Syamsuddin (2003)
mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian, yang mencakup :
- Karakter; yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
- Temperamen; yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan.
- Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif atau ambivalen.
- Stabilitas emosi; yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Seperti mudah tidaknya tersinggung, sedih, atau putus asa.
- Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau menerima resiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi.
- Sosiabilitas; yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
Untuk kepentingan layanan bimbingan
dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku
individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan
mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi
perilaku individu yang dilayaninya (klien). Selain itu, seorang
konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan
dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan
kebahagian hidup kliennya. Begitu pula, konselor sedapat mungkin
mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan segenap
potensi bawaan kliennya. Terkait dengan upaya pengembangan belajar
klien, konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam
belajar serta berbagai teori belajar yang mendasarinya. Berkenaan
dengan upaya pengembangan kepribadian klien, konselor kiranya perlu
memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian kliennya.
Oleh karena itu, agar konselor benar-benar dapat menguasai landasan
psikologis, setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus
dikuasai dengan baik, yaitu bidang psikologi umum, psikologi
perkembangan, psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan
psikologi kepribadian.
- Landasan Pedagogis
Ketika seorang melakukan praktik
pelayanan bimbingan konseling berarti seseorang itu sedang mendidik.
Landasan pedagogis pelayanan bimbingan konseling berkaitan dengan :
- Pendidkan sebagai upaya pengembangan manusia dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan
- Pendidikan sebagai inti proses bimbingan konseling
- Pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan bimbingan konseling
Pendidikan itu merupakan salah satu
lembaga sosial yang universal dan berfungsi sebagai sarana reproduksi
sosial ( Budi Santoso, 1992)
Bimbingan dan
konseling itu identik dengan pendidikan. Artinya ketka seseorang
melakukan praktik bimbingan dan konseling berarti ia sedang
mendidik., dan begitupula sebaliknya. Pendidikan itu merupakan salah
satu lembaga sosial yang universal dan berfungsi sebagai sarana
reproduksi sosial ( Budi Santoso, 1992)
Landasan pedagogis
dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi, yaitu:
- Pendidikan sebagai upaya pengembangan Individu: Bimbingan merupakan bentuk upaya pendidikan
Pendidikan adalah upaya memanusiakan
manusia. Seorang bagi manusia hanya akan dapat menjadi manusia sesuai
dengan tuntutan budaya hanya melalui pendidikan. Tanpa pendidikan,
bagi manusia yang telah lahir itu tidak akan mampu memperkembangkan
dimensi keindividualannya, kesosialisasinya, kesosilaanya dan
keberagamaanya.
Undang-Undang No. 2 Tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional pasal 1 ayat (1) ditegaskan bahwa
:
Pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta ketrampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Tujuan bimbingan dan konseling tidak
boleh menyimpang dengan tujuan pendidikan nasional,yakni yang
terdapat dalam Undang-Undang No. 20/2003 juga, disebutkan bahwa :
Pendidikan Nasional bertujuan
mencerdaskan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya,
yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa
dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan,
kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri,
serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Integrasi bimbingan dan konseling
dengan pendidikan juga tampak dari dimasukkannya secara
berkesinambungan berbagai program pelayanan bimbingan dan konseling
ke dalam program-program sekolah dan madrasah.
- Pendidikan sebagai inti Proses Bimbingan Konseling
Indikator utama
yang menandai adanya pendidikan ialah peserta didik yang terlibat di
dalamnya menjalani proses belajar dan kegiatan bimbingan
konseling bersifat normatif.
Bimbingan dan
konseling mengembangkan proses belajar yang dijalani oleh
klien-kliennya. Kesadaran ini telah tampil sejak pengembangan gerakan
Bimbingan dan Konseling secara meluas di Amerika Serikat . pada tahun
1953, Gistod telah menegaskan Bahwa Bimbingan dan Konseling adalah
proses yang berorientasi pada belajar……, belajar untuk memahami
lebih jauh tentang diri sendiri, belajar untuk mengembangkan dan
merupakan secara efektif berbagai pemahaman.. (dalam Belkin, 1975).
Lebih jauh, Nugent (1981) mengemukakan bahwa dalam konseling klien
mempelajari ketrampilan dalam pengambilan keputusan. Pemecahan
masalah, tingkah laku, tindakan, serta sikap-sikap baru . Dengan
belajar itulah klien memperoleh berbagai hal yang baru bagi dirinya;
dengan memperoleh hal-hal baru itulah klien berkembang.
- Pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan Bimbingan tujuan dan konseling
Bimbingan dan
konseling mempunyai tujuan khusus ( jangka pendek ) dan tujuan umum (
jangka panjang ). Mengutip pendapat Crow and Crow, Prayitno dan Erman
Amti menyatakan bahwa tujuan khusus dalam pelayanan bimbingan dan
konseling ialah membantu individu memecahkan masalah-masalah yang
dihadapinya, sedangkan tujuan umumnya ialah bimbingan itu sendiri.
Tujuan Bimbingan
dan Konseling disamping memperkuat tujuan-tujuan pendidikan, juga
menunjang proses pendidikan pada umumnya. Hal itu dapat dimengerti
karena program-program bimbingan dan konseling meliputi aspek-aspek
tugas perkembangan individu, khususnya yang menyangkut kawasan
kematangan pendidikan karier, Kematangan personal dan emosional,
serta kematangan sosial, semuanya untuk peserta didik pada jenjang
pendidikan dasar (SD dan SLTP) dan pendidikan menengah (Borders dan
Drury, 1992). Hasil-hasil bimbingan dan konseling pada kawasan itu
menunjang keberhasilan pendidikan pada umumnya.
- Hubungan Antar landasan Bimbingan dan Konseling
Pelayanan
bimbingan dan konseling memerlukan sejumlah landasan sebagai dasar
yang kokoh dalam penyelenggaraannya. Landasan-landasan itu saling
berkaitan dan berpengaruh satu sama lain. Landasan historis adalah
landasan yang mengawali penyebaran kegiatan bimbingan dan konseling
di dunia, sebagai suatu langkah sadar dalam meningkatkan sumber daya
manusia.
Landasan filosofis
memberikan sumbangan yang sangat berati dalam pelayanan bimbingan dan
konseling agar konselor dapat memahami hakikat, tujuan dan tugas
hidup manusia, Landasan sosial budaya adalah landasan yang
memengaruhi proses bimbingan konseling dalam ruang lingkup sosial
budaya, sebagai salah satu instrumen penting dalam pembentukan
perilaku individu. Landasan psikologis meninjau dasar keperluan
bimbingan dan konseling dengan konsep psikologis, yang menjelaskan
tentang kepribadian manusia. Landasan religius adalah landasan yang
mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam proses bimbingan dan
konseling.
Landasan-landasan
tersebut memberikan pondasi yang kokoh terhadap penyelenggaraan
bimbingan dan konseling dalam rangka peningkatan sumber daya manusia
untuk mencapai hidup yang lebih sejahtera.
BAB
III
PENUTUP
- Kesimpulan
Bahwasannya
landasan dalam
bimbingan konseling merupakan faktor yang harus diperhatikan dan
dipertimbangakan khususnya oleh konselator selaku pelaksana utama
dalam melayani bimbingan konseling.
Ada beberapa landasan bimbingan dan konseling, yaitu Landasan
filosofis, landasan religius, landasan psikologi, landasan sosial
budaya, landasan sosiologis, serta landasan pedagogis.3
Landasan-landasan
tersebut memberikan pondasi yang kokoh terhadap penyelenggaraan
bimbingan dan konseling dalam rangka peningkatan sumber daya manusia
untuk mencapai hidup yang lebih sejahtera. Disamping itu Bimbingan
dan Konseling juga
dapat memperkuat
tujuan-tujuan pendidikan, juga menunjang proses pendidikan pada
umumnya.
2
Aqib Zainal, Ikhtisar Bimbingan dan konseling di sekolah
(Bandung, Yrama Widya:2012) hal:17-18
Tidak ada komentar:
Posting Komentar