Aku
membenci hujan, entah kenapa aku tidak pernah suka dengan kejadian alam yang
satu itu, karena hujan selalu menghancurkan setiap rencana yang telah ku susun
dengan sempurna. Tapi untuk pertama kalinya saat itu dan sampai hari ini aku
mulai menyukai hujan, anugerah tuhan yang satu itu seolah menolongku waktu itu.
Menolong dari hal – hal yang membuatku goyah, tentunya.
Aku yang seorang wanita pisces ini telah melihat ke
jendela sekitar 6 jam lebih, tapi aku tak jemu sama sekali, aku melihat berbagai
orang berlalu lalang menghindari hujan, aku tersenyum tipis melihat itu semua.
Hingga sebuah suara mengintrupsi, dan mengusik kegiatan yang menyenangkan ini.
“Jangan tersenyum
sendiri begitu, kau bisa dikira orang gila Tari” ucap temanku yang bernama Vina,
ia gadis manis berperawakan tinggi, dengan wajah oval dan rambut sebahu yang di
tata rapi, rok merah sepaha dan jas pas body yang bertengger di bandannya
menambah kesempurnaan penampilannya sebagai seorang sekretaris.
“Biar saja, aku kan
memang orang gila” balasku setengah malas menatapnya
“Cih, orang gila macam
apa yang bisa masuk ke kafe sebagus ini, sepertinya aku harus melaporkan ini
pada pemilik kafenya” ucapnya dengan nada menyindir
“Laporkan saja, toh
orangnya kini ada didepanmu” aku terkekeh berbarengan dengannya, aku pun
mempersilahkan ia duduk, dan memanggil pelayan untuk membuatkan pesanan kami.
“Aku baru tahu, Mentari
yang bersinar terang ternyata mampu tersenyum oleh hujan ya” sindirnya padaku
“Ha ha ha aku kini
sudah melupakan awan gelap itu dan mulai menyukai hujan, bukankah itu bagus?”
tanyaku padanya lebih seperti penegasan
“Ya, itu bagus karena
itu berarti kau sudah bisa menyingkirkan awan gelap itu dari hidupmu” ucapnya
tulus
“Ini undangan untukmu,
kau bisa datang kan?” ucap Vina berbinar
“Woa, si playgril Vina
kini berlabuh ternyata” aku terpekik saking senangnya melihat undangan yang ada
ditanganku
“Jangan datang sendiri,
dan jangan datang memakai kaos dan jeans seperti itu pada upacara pernikahanku
seminggu lagi, atau aku akan menjodohkanmu dengan bos ku” nadanya mengancam
namun diselipi tawa diakhir.
“ Ish, aku tak suka
berurusan dengan bos mu yang sok perfect itu, baru juga sekali kesini sudah
membuat masalah” aku mengucapkannya dengan ketus, sangat ketus.
Aku lalu mengingat kejadian dua minggu lalu, sebuah team perusahaan rapat di kafe ku ini. Warm
Soul nama kafe yang ku dirikan setahun lalu ini, aku membuat kafe ini dengan
alasan sangat simple aku ingin membagi kehangatan ke seluruh jiwa manusia yang
ada disini. Aku tak pernah membenci pelangganku, meskipun ibu – ibu cerewet dan
penggosip sekalipun, aku selalu melatih karyawanku untuk bersabar, sampai tiba
hari itu. Tepatnya dua minggu lalu saat aku sedang rapat bersama team
advertising dimana aku bekerja, tiba – tiba salah satu pegawaiku menelfonku dan
menyuruhku datang ke kafe ku yang berada sekitar 10 Km dari tempat kerjaku. Aku
langsung meminta izin keluar dari ruangan rapat dan menyetop taksi dengan
segera, karena jika aku memakai sepeda mungkin akan memakan waktu lama. Aku langsung
melesat menuju ke kafe ku, beberapa pengunjung kafe ku keluar dan mendumal
“Kafe apaan ini, ribut
– ribut kok di biarin” aku mendengar seorang ibu – ibu mengoceh dengan cerewet
dan dibenarkan oleh temannya
“Iya, aku malas jika
harus datang kesini lagi” aku langsung shock mendengarnya buru – buru aku masuk
ke kafe ku saat itu, dan kudapati dua orang sedang berkelahi satunya adalah
seorang laki- laki dengan mata sipit dan kulit putih, cukup tampan, memakai jas
cukup rapi, dan yang satunya orang yang hampir sama dalam segi fisik namun
pakainnya mencerminkan anak muda gaul masa kini dengan kaus polo berkerah dan
celana jeans dan tubuh yang cukup six pack. Aku mengalihkan fokusku pada
pegawaiku dan memasang tampang bertanya.
“Itu bos, mereka berdua
berkelahi sejak tadi, kami tidak mampu memisahkannya” Rini pegawaiku yang kalem
ini mengadu padaku
“Apa gunanya mereka
berdua” tunjuk ku pada Hadi dan Rinto
“Maaf bos kami tidak berani
melerai orang yang sedang kalap soal cinta” lirih mereka berdua, aku lalu memasang
ekspresi bertanya dan semua menunjuk pada seorang gadis cantik yang berpakaian
dress pink selutut dengan rambut coklat lurus tergerai, ditambah wajah bulat
dan hidung mancungnya menambah kesan cantik wajahnya mirip salah satu artis
Korea. Aku menghela nafas lalu melangkah menuju kedua orang itu yang masih
berkelahi dan menghancurkan bebrapa perabotan kafe ku
“ Permisi bisakah
kalian berhenti berkelahi di dalam kafe kami” aku berbicara sesopan mungkin,
namun mereka tidak mendengarkanku. Mereka berdua malah menatap tajam padaku
sekilas, lalu langsung memulai lagi pertengkaran mereka. Sungguh menyebalkan,
kesabaranku habis saat terdengar suara “praang” vas bunga yang berisi bunga
mawar putihku pecah, entah kenapa darahku tiba – tiba naik keujung kepalaku
membuatku benar – benar marah.
“Kalian tahu apa yang
paling kubenci kan? “
“Ya bos” jawab serempak
pegawaiku
“Brak – Bruk, Prang,
buk , buk” begitulah bunyi suara saat aku menghajar kedua pria itu. Dan
beberapa menit kemudian disinilah mereka , aku mendudukkan mereka didepanku
“Permisi tuan – tuan,
jika kalian ingin berkelahi jangan di kafe ku kalian bahkan memecahkan TEMPAT
HIDUP MAWAR KU YANG BERHARGA” bentakku pada mereka
“Jika ini masalah Vas
bungamu aku bisa menggantinya dengan harga berkali – kali lipat, sebentar lagi
sekretaris ku akan datang” jawabnya sombong
“Tapi kenapa kau
memukulku? “ ucapnya galak
“Cih, apa kau tau?? Pot
itu tidak bisa dibeli dengan apapun karena..” belum sempat aku menyelesaikannya
seorang wanita dengan rok sepaha dan jas pas body telah berdiri disampingku
“Maafkan bos ku Tari,
aku janji akan membantumu membuat vas – vas itu, aku akan mengecatnya dengan
bagus dan menanam bunga mawar putih itu lagi” ucapnya runtun
“Vina?” aku memberinya tatapan tanya
“Ini bos ku, aku minta
maaf aku janji aku akan membantumu membereskan kafemu, bisakah kau melepaskan
mereka semua” ucapnya padaku sambil memohon membuatku luluh
“Memangnya siapa
mereka, berapa dari mereka yang ada hubungannya dengan mu? Akan ku lepaskan”
“Dia bosku, dia pacar
bosku dan yang satunya sepupu bosku” ucapnya sambil menunjuk muka mereka satu
satu
“Ish, baiklah, kalian
semua tutup kafe sementara bersihkan dan ambil beberpa perabot di gudang untuk
menggantikan perabot yang telah rusak” perintahku pada para pegawaiku
“Dan kalian bertiga
pulang dan selesaikan masalah kalian dirumah” ucapku yang di sahut Vina dan
gadis yang mereka perebutkan dengan ucapan terima kasih
“Aku Steven, kau bisa
menghubungi Vina untuk masalah ganti rugi atas semuanya permisi” ucap laki –
laki yang ber jas itu sopan, meski begitu aku tetap kesal karena ia tak
mengucap terima kasih
“Aku Andrew, Maaf
membuat Kafe mu berantakan, dan gadis itu Meylin, kami berterima kasih, dan
terima kasih atas pukulanmu, cukup merusak wajahku yang tampan ini” ucapnya
dengan cengiran yang cukup membuatku kesal
“Cih, aku harap aku tak
akan pernah bertemu makhluk seperti kalian” aku memalingkan muka melihat vas
bunga terakhir pemberian ibu ku yang kami lukis bersama dan satu vas lagi
pemberian laki – laki itu, yang kini pecah berkeping – keping. Aku melihat Vina
pergi, dan memandangku dengan Iba. Dia tau benar arti vas – vas itu untukku
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
“Tari, kau melamunkan
apa” Vina berucap sambil melambaikan tangannya dihadapanku
“Aku ingat kejadian
yang membuat malas mengurusi bos mu yang menyebalakan itu, ia bahkan tak
berterima kasih padaku” ucapku dengan
nada sedikit kecewa, bahkan aku harus mengiklankan ulang kafe ku demi
mengembalikan image kafe ku agar bisa seramai ini lagi. Aku lantas melihat
sekeliling kafe yang penuh dengan banyak orang itu.
“Kau sendiri yang
menolak uang ganti rugi dari bos ku kenapa kau sekarang yang megeluh, dasar,
kau ini tidak pernah berubah sejak kuliah dulu” iya tersenyum sambil menyentuh
tanganku
“Aku tidak butuh
uangnya, toh uang itu tidak akan pernah bisa membeli vas bunga ibu dan laki –
laki itu” ucapku sendu
“Ish, kau masih
mengingat laki – laki jahat itu? Kau ini selalu menasehati aku untuk mencari
laki – laki baik. Tapi kau sendiri terjebak dengan laki – laki jahat itu” ucap
Vina dengan nada sedikit marah
“Setidaknya karenanya
aku bisa menyukai hujan kan?”
“Dan aku harap karena
hujan, kau bisa menemukan jodohmu dan mungkin saja itu bos ku” ia lalu tertawa
lepas sementara aku cemberut dengan sangat mendengar kata – katanya. Aku tidak
mau berurusan dengan bos Vina lagi, lagi pula aku tidak pernah percaya konsep
benci jadi cinta, lagipula aku kan tidak pernah membenci siapapun, bahkan laki
– laki itu yang telah menyakiti hatiku sedalam – dalamnya.
Kami pun melanjutkan percakapan hingga tak terasa malam
telah menyapa, dan Vina pun izin pulang duluan, aku melihat sekeliling kafe,
semua orang sibuk mengambilkan pesanan, aku beranjak pergi dari tempat duduk
yang khusus untukku itu, sampai Rini menghalangiku
“Ada apa rin? Kalian
butuh bantuanku?” aku bertanya dengan tampang kalem
“Tidak , hanya saja..”
Rini menggantungkan kalimatnya, hal yang paling tidak ku suka
“Apa?”
“Bos tidak boleh pergi,
tadi seseorang menelfon dan ingin berbicara pada bos soal ganti rugi insiden
kafe kemarin” ucap rini runtun padaku
“Ah, aku sudah lupa, itu
kan sudah dua minggu lalu. Tak masalah aku tak butuh ganti rugi, dan aku harus
pulang aku takut kemalaman kau tahu kan, bersepeda malam – malam itu tidak
baik. Aku harus jaga badan agar bisa mneggaji kalian dengan layak ha ha ha”
tawaku hambar
“Bos, aku tau ini
tanggal itu kan? Mangkanya kau libur kerja dan di kafe seharian, apa tidak apa
– apa jika kau pulang secepat ini?”
“Tak apa, aku tak akan
menangis dikamar sendirian lagi kok, terima kasih sudah perhatian padaku, dan
jangan dengarkan kata – kata Vina, aku tidak sendirian kan masih ada kalian dan
juga Ayah” aku tersenyum kepada mereka semua dan pamit pulang
“Apa benar tidak apa –
apa bos, wajahmu seperti itu sih” lirih Rini, tapi aku sudah pergi saat ia
mengucapkan itu
Beberapa menit setelah aku pergi ada seorang laki – laki
berkulit putih yang berpakaian rapi berkunjung ke kafe ku, ia segera duduk dan
memanggil pelayan
“Dimana bos mu? Aku
tadi sudah membuat janji dengannya” tanyanya pada Rini
“Maaf, Bos Tari hari
ini sedang tidak bisa diganggu tuan” ucap Rini ramah
“Dasar keterlaluan”
desisnya pelan
“Boleh aku minta alamat
rumahnya?” ia bertanya memelas pada Rini
“Ini tuan, tapi tolong
jangan kunjungi ia malam ini, dia sedang tidak baik” ucap Rini sepelan mungkin
“Baiklah” senyum Steven
cerah
Hawa dingin kembali
menyapa kota Bandung, kota yang terkenal
cukup sejuk itu menimbulkan hawa yang begitu dingin, namun ada seorang
perempuan yang tengah terduduk sendirian di kamarnya menerawang melihat pecahan
– pecahan vas dan menangis lagi, kendati
ia sudah berjanji tak akan menangis sendirian.
Ia tidak berbohong karena ia memang tidak sendirian ia ditemani pecahan
vas bunganya. Ia sendirian di sebuah apartemen yang lumayan sederhana tapi
cukup membuatnya nyaman ia kembali teringat wajah ibu dan laki – laki yang
pernah mengisi hatinya itu.
Sekitar
4 tahun lalu saat ia berusia 20 tahun, ia menerima vas itu dari seorang laki –
laki yag lebih tinggi darinya sekitar 30 centimeter dan memiliki wajah pas –
pasan. Tapi entah kenapa setiap perkataan
laki – laki itu ia percayai sepenuhnya. Tidak ada ikatan khusus diantara
mereka hanya rasa cinta tanpa ikatan, dan wanita bodoh yang mau berhubungan
tanpa status itu adalah aku. Aku masih ingat betul genggaman erat tangannya di
tanganku, ucapan menggebu – gebu nya soal masa depan nya, mimpinya dan caranya
memotivasiku.
“Andai waktu bisa
diputar, mungkin aku memilih untuk tidak pernah jatuh padamu Awan” lirihku
pelan sambil menyentuh vas itu
Aku kembali mengingat
momen itu lagi,moment yang membuatku menyukai vas itu, sangat
“Tari, kau suka bunga
apa?” tanya Awan padaku
“Mawar Putih “ jawabku
mantap
“Kenapa mawar? Kan
berduri” tanyanya dengan lugu
“Karena mawar bisa
melindungi dirinya sendiri” ucapku sambil tersenyum
“Besok aku akan kembali
ke Brunei, jadi bagaimana kalau hari ini kita jalan – jalan?”
“Ok” aku lalu
mengangguk dengan mantap, kami berjalan – jalan mengelilingi Surabaya, aku
tinggal di Surabaya bersama orang tuaku, dan laki – laki disampingku ini adalah
sahabatku sejak dulu, dia adalah satu – satunya orang yang kubiarkan menyentuh
hatiku disaat yang lain justru kutendang jauh – jauh. Ia juga beuntung karena
orang tuanya berada di Brunei Darussalam jadi dia bisa bersekolah disana.
“Eh lihat ada orang
buat vas, aku jadi pengen” Ucap Awan senang
“Wan, umur kita udah
berapa? Jangan kayak anak kecil ah, masak mau ikutan anak – anak itu buat vas
bunga” tolakku
Saat itu aku dan Awan
sedang berada di sebuah taman, ada anak – anak kecil sedang membuat vas, lebih
tepatnya menghias vas yang telah jadi dengan cat warna – warni. Awan mengacuhkan ucapanku dan
mendekati guru seni anak – anak itu meminta izin untuk ikut mewarnai vas bunga
yang ada, ia lalu menggambar berbagai gambar. Padahal gambarnya payah sekali,
apa dia tidak sadar kalau gambarnya payah. Ia lalu memberikan uang pada ibu
guru itu untuk vas yang dipegangnya.
“Wan, untuk apa vas
itu?” aku bertanya padanya tapi ia hanya diam sepanjang jalan
Saat kami berada
didepan rumahku ia memberikan Vas nya padaku
“Untukmu, selamat ulang
tahun Mentari ku” aku tertegun mendengar kata – katanya “Mentari ku” dia
bilang. Aku merasakan debaran berbeda, selama bertahun- tahun bersahabat
dengannya aku tidak pernah merasa seperti ini.
“Wan ulang tahunku kan
sudah lewat 5 hari yang lalu” ucapku pura – pura kesal, menyembunyikan sedikit kegugupanku.
“Bukan masalah , aku
hanya ingin memberikannya padamu, kau bisa menanam mawar putih disana” ucapnya
polos lalu pergi meninggalkanku
Setelah itu esoknya
kudapati ia telah kembali ke Brunei Darussalam untuk menyelesaikan kuliahnya
disana, aku bahkan tidak pernah menyangka itu semua adalah kenangan manis yang
bisa kuingat saja tanpa bisa kuulangi lagi. Aku lalu menangis sepanjang malam,
menenggelamkan wajahku kedalam selimut dan tanpa kusadari aku telah tertidur
dan bermimpi indah.