Selasa, 03 November 2015

Cerpen "Memories"



       
Aku membenci hujan, entah kenapa aku tidak pernah suka dengan kejadian alam yang satu itu, karena hujan selalu menghancurkan setiap rencana yang telah ku susun dengan sempurna. Tapi untuk pertama kalinya saat itu dan sampai hari ini aku mulai menyukai hujan, anugerah tuhan yang satu itu seolah menolongku waktu itu. Menolong dari hal – hal yang membuatku goyah, tentunya.
            Aku yang seorang wanita pisces ini telah melihat ke jendela sekitar 6 jam lebih, tapi aku tak jemu sama sekali, aku melihat berbagai orang berlalu lalang menghindari hujan, aku tersenyum tipis melihat itu semua. Hingga sebuah suara mengintrupsi, dan mengusik kegiatan yang menyenangkan ini.
“Jangan tersenyum sendiri begitu, kau bisa dikira orang gila Tari” ucap temanku yang bernama Vina, ia gadis manis berperawakan tinggi, dengan wajah oval dan rambut sebahu yang di tata rapi, rok merah sepaha dan jas pas body yang bertengger di bandannya menambah kesempurnaan penampilannya sebagai seorang sekretaris.
“Biar saja, aku kan memang orang gila” balasku setengah malas menatapnya
“Cih, orang gila macam apa yang bisa masuk ke kafe sebagus ini, sepertinya aku harus melaporkan ini pada pemilik kafenya” ucapnya dengan nada menyindir
“Laporkan saja, toh orangnya kini ada didepanmu” aku terkekeh berbarengan dengannya, aku pun mempersilahkan ia duduk, dan memanggil pelayan untuk membuatkan pesanan kami.
“Aku baru tahu, Mentari yang bersinar terang ternyata mampu tersenyum oleh hujan ya” sindirnya padaku
“Ha ha ha aku kini sudah melupakan awan gelap itu dan mulai menyukai hujan, bukankah itu bagus?” tanyaku padanya lebih seperti penegasan
“Ya, itu bagus karena itu berarti kau sudah bisa menyingkirkan awan gelap itu dari hidupmu” ucapnya tulus
“Ini undangan untukmu, kau bisa datang kan?” ucap Vina berbinar
“Woa, si playgril Vina kini berlabuh ternyata” aku terpekik saking senangnya melihat undangan yang ada ditanganku
“Jangan datang sendiri, dan jangan datang memakai kaos dan jeans seperti itu pada upacara pernikahanku seminggu lagi, atau aku akan menjodohkanmu dengan bos ku” nadanya mengancam namun diselipi tawa diakhir.
“ Ish, aku tak suka berurusan dengan bos mu yang sok perfect itu, baru juga sekali kesini sudah membuat masalah” aku mengucapkannya dengan ketus, sangat ketus.
            Aku lalu mengingat kejadian dua minggu lalu, sebuah  team perusahaan rapat di kafe ku ini. Warm Soul nama kafe yang ku dirikan setahun lalu ini, aku membuat kafe ini dengan alasan sangat simple aku ingin membagi kehangatan ke seluruh jiwa manusia yang ada disini. Aku tak pernah membenci pelangganku, meskipun ibu – ibu cerewet dan penggosip sekalipun, aku selalu melatih karyawanku untuk bersabar, sampai tiba hari itu. Tepatnya dua minggu lalu saat aku sedang rapat bersama team advertising dimana aku bekerja, tiba – tiba salah satu pegawaiku menelfonku dan menyuruhku datang ke kafe ku yang berada sekitar 10 Km dari tempat kerjaku. Aku langsung meminta izin keluar dari ruangan rapat dan menyetop taksi dengan segera, karena jika aku memakai sepeda mungkin akan memakan waktu lama. Aku langsung melesat menuju ke kafe ku, beberapa pengunjung kafe ku keluar dan mendumal
“Kafe apaan ini, ribut – ribut kok di biarin” aku mendengar seorang ibu – ibu mengoceh dengan cerewet dan dibenarkan oleh temannya
“Iya, aku malas jika harus datang kesini lagi” aku langsung shock mendengarnya buru – buru aku masuk ke kafe ku saat itu, dan kudapati dua orang sedang berkelahi satunya adalah seorang laki- laki dengan mata sipit dan kulit putih, cukup tampan, memakai jas cukup rapi, dan yang satunya orang yang hampir sama dalam segi fisik namun pakainnya mencerminkan anak muda gaul masa kini dengan kaus polo berkerah dan celana jeans dan tubuh yang cukup six pack. Aku mengalihkan fokusku pada pegawaiku dan memasang tampang bertanya.
“Itu bos, mereka berdua berkelahi sejak tadi, kami tidak mampu memisahkannya” Rini pegawaiku yang kalem ini mengadu padaku
“Apa gunanya mereka berdua” tunjuk ku pada Hadi dan Rinto
“Maaf bos kami tidak berani melerai orang yang sedang kalap soal cinta” lirih mereka berdua, aku lalu memasang ekspresi bertanya dan semua menunjuk pada seorang gadis cantik yang berpakaian dress pink selutut dengan rambut coklat lurus tergerai, ditambah wajah bulat dan hidung mancungnya menambah kesan cantik wajahnya mirip salah satu artis Korea. Aku menghela nafas lalu melangkah menuju kedua orang itu yang masih berkelahi dan menghancurkan bebrapa perabotan kafe ku
“ Permisi bisakah kalian berhenti berkelahi di dalam kafe kami” aku berbicara sesopan mungkin, namun mereka tidak mendengarkanku. Mereka berdua malah menatap tajam padaku sekilas, lalu langsung memulai lagi pertengkaran mereka. Sungguh menyebalkan, kesabaranku habis saat terdengar suara “praang” vas bunga yang berisi bunga mawar putihku pecah, entah kenapa darahku tiba – tiba naik keujung kepalaku membuatku benar – benar marah.
“Kalian tahu apa yang paling kubenci kan? “
“Ya bos” jawab serempak pegawaiku
“Brak – Bruk, Prang, buk , buk” begitulah bunyi suara saat aku menghajar kedua pria itu. Dan beberapa menit kemudian disinilah mereka , aku mendudukkan mereka didepanku
“Permisi tuan – tuan, jika kalian ingin berkelahi jangan di kafe ku kalian bahkan memecahkan TEMPAT HIDUP MAWAR KU YANG BERHARGA” bentakku pada mereka
“Jika ini masalah Vas bungamu aku bisa menggantinya dengan harga berkali – kali lipat, sebentar lagi sekretaris ku akan datang” jawabnya sombong
“Tapi kenapa kau memukulku? “ ucapnya galak
“Cih, apa kau tau?? Pot itu tidak bisa dibeli dengan apapun karena..” belum sempat aku menyelesaikannya seorang wanita dengan rok sepaha dan jas pas body telah berdiri disampingku
“Maafkan bos ku Tari, aku janji akan membantumu membuat vas – vas itu, aku akan mengecatnya dengan bagus dan menanam bunga mawar putih itu lagi” ucapnya runtun
“Vina?”  aku memberinya tatapan tanya
“Ini bos ku, aku minta maaf aku janji aku akan membantumu membereskan kafemu, bisakah kau melepaskan mereka semua” ucapnya padaku sambil memohon membuatku luluh
“Memangnya siapa mereka, berapa dari mereka yang ada hubungannya dengan mu? Akan ku lepaskan”
“Dia bosku, dia pacar bosku dan yang satunya sepupu bosku” ucapnya sambil menunjuk muka mereka satu satu
“Ish, baiklah, kalian semua tutup kafe sementara bersihkan dan ambil beberpa perabot di gudang untuk menggantikan perabot yang telah rusak” perintahku pada para pegawaiku
“Dan kalian bertiga pulang dan selesaikan masalah kalian dirumah” ucapku yang di sahut Vina dan gadis yang mereka perebutkan dengan ucapan terima kasih
“Aku Steven, kau bisa menghubungi Vina untuk masalah ganti rugi atas semuanya permisi” ucap laki – laki yang ber jas itu sopan, meski begitu aku tetap kesal karena ia tak mengucap terima kasih
“Aku Andrew, Maaf membuat Kafe mu berantakan, dan gadis itu Meylin, kami berterima kasih, dan terima kasih atas pukulanmu, cukup merusak wajahku yang tampan ini” ucapnya dengan cengiran yang cukup membuatku kesal
“Cih, aku harap aku tak akan pernah bertemu makhluk seperti kalian” aku memalingkan muka melihat vas bunga terakhir pemberian ibu ku yang kami lukis bersama dan satu vas lagi pemberian laki – laki itu, yang kini pecah berkeping – keping. Aku melihat Vina pergi, dan memandangku dengan Iba. Dia tau benar arti vas – vas itu untukku
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
“Tari, kau melamunkan apa” Vina berucap sambil melambaikan tangannya dihadapanku
“Aku ingat kejadian yang membuat malas mengurusi bos mu yang menyebalakan itu, ia bahkan tak berterima kasih padaku”  ucapku dengan nada sedikit kecewa, bahkan aku harus mengiklankan ulang kafe ku demi mengembalikan image kafe ku agar bisa seramai ini lagi. Aku lantas melihat sekeliling kafe yang penuh dengan banyak orang itu.
“Kau sendiri yang menolak uang ganti rugi dari bos ku kenapa kau sekarang yang megeluh, dasar, kau ini tidak pernah berubah sejak kuliah dulu” iya tersenyum sambil menyentuh tanganku
“Aku tidak butuh uangnya, toh uang itu tidak akan pernah bisa membeli vas bunga ibu dan laki – laki itu” ucapku sendu
“Ish, kau masih mengingat laki – laki jahat itu? Kau ini selalu menasehati aku untuk mencari laki – laki baik. Tapi kau sendiri terjebak dengan laki – laki jahat itu” ucap Vina dengan nada sedikit marah
“Setidaknya karenanya aku bisa menyukai hujan kan?”
“Dan aku harap karena hujan, kau bisa menemukan jodohmu dan mungkin saja itu bos ku” ia lalu tertawa lepas sementara aku cemberut dengan sangat mendengar kata – katanya. Aku tidak mau berurusan dengan bos Vina lagi, lagi pula aku tidak pernah percaya konsep benci jadi cinta, lagipula aku kan tidak pernah membenci siapapun, bahkan laki – laki itu yang telah menyakiti hatiku sedalam – dalamnya.
            Kami pun melanjutkan percakapan hingga tak terasa malam telah menyapa, dan Vina pun izin pulang duluan, aku melihat sekeliling kafe, semua orang sibuk mengambilkan pesanan, aku beranjak pergi dari tempat duduk yang khusus untukku itu, sampai Rini menghalangiku
“Ada apa rin? Kalian butuh bantuanku?” aku bertanya dengan tampang kalem
“Tidak , hanya saja..” Rini menggantungkan kalimatnya, hal yang paling tidak ku suka
“Apa?”
“Bos tidak boleh pergi, tadi seseorang menelfon dan ingin berbicara pada bos soal ganti rugi insiden kafe kemarin” ucap rini runtun padaku
“Ah, aku sudah lupa, itu kan sudah dua minggu lalu. Tak masalah aku tak butuh ganti rugi, dan aku harus pulang aku takut kemalaman kau tahu kan, bersepeda malam – malam itu tidak baik. Aku harus jaga badan agar bisa mneggaji kalian dengan layak ha ha ha” tawaku hambar
“Bos, aku tau ini tanggal itu kan? Mangkanya kau libur kerja dan di kafe seharian, apa tidak apa – apa jika kau pulang secepat ini?”
“Tak apa, aku tak akan menangis dikamar sendirian lagi kok, terima kasih sudah perhatian padaku, dan jangan dengarkan kata – kata Vina, aku tidak sendirian kan masih ada kalian dan juga Ayah” aku tersenyum kepada mereka semua dan pamit pulang
“Apa benar tidak apa – apa bos, wajahmu seperti itu sih” lirih Rini, tapi aku sudah pergi saat ia mengucapkan itu
            Beberapa menit setelah aku pergi ada seorang laki – laki berkulit putih yang berpakaian rapi berkunjung ke kafe ku, ia segera duduk dan memanggil pelayan
“Dimana bos mu? Aku tadi sudah membuat janji dengannya” tanyanya pada Rini
“Maaf, Bos Tari hari ini sedang tidak bisa diganggu tuan” ucap Rini ramah
“Dasar keterlaluan” desisnya pelan
“Boleh aku minta alamat rumahnya?” ia bertanya memelas pada Rini
“Ini tuan, tapi tolong jangan kunjungi ia malam ini, dia sedang tidak baik” ucap Rini sepelan mungkin
“Baiklah” senyum Steven cerah
Hawa dingin kembali menyapa kota  Bandung, kota yang terkenal cukup sejuk itu menimbulkan hawa yang begitu dingin, namun ada seorang perempuan yang tengah terduduk sendirian di kamarnya menerawang melihat pecahan – pecahan vas dan menangis  lagi, kendati ia sudah berjanji tak akan menangis sendirian.  Ia tidak berbohong karena ia memang tidak sendirian ia ditemani pecahan vas bunganya. Ia sendirian di sebuah apartemen yang lumayan sederhana tapi cukup membuatnya nyaman ia kembali teringat wajah ibu dan laki – laki yang pernah mengisi hatinya itu.
Sekitar 4 tahun lalu saat ia berusia 20 tahun, ia menerima vas itu dari seorang laki – laki yag lebih tinggi darinya sekitar 30 centimeter dan memiliki wajah pas – pasan. Tapi entah kenapa setiap perkataan  laki – laki itu ia percayai sepenuhnya. Tidak ada ikatan khusus diantara mereka hanya rasa cinta tanpa ikatan, dan wanita bodoh yang mau berhubungan tanpa status itu adalah aku. Aku masih ingat betul genggaman erat tangannya di tanganku, ucapan menggebu – gebu nya soal masa depan nya, mimpinya dan caranya memotivasiku.
“Andai waktu bisa diputar, mungkin aku memilih untuk tidak pernah jatuh padamu Awan” lirihku pelan sambil menyentuh vas itu
Aku kembali mengingat momen itu lagi,moment yang membuatku menyukai vas itu, sangat
“Tari, kau suka bunga apa?” tanya Awan padaku
“Mawar Putih “ jawabku mantap
“Kenapa mawar? Kan berduri” tanyanya dengan lugu
“Karena mawar bisa melindungi dirinya sendiri” ucapku sambil tersenyum
“Besok aku akan kembali ke Brunei, jadi bagaimana kalau hari ini kita jalan – jalan?”
“Ok” aku lalu mengangguk dengan mantap, kami berjalan – jalan mengelilingi Surabaya, aku tinggal di Surabaya bersama orang tuaku, dan laki – laki disampingku ini adalah sahabatku sejak dulu, dia adalah satu – satunya orang yang kubiarkan menyentuh hatiku disaat yang lain justru kutendang jauh – jauh. Ia juga beuntung karena orang tuanya berada di Brunei Darussalam jadi dia bisa bersekolah disana.
“Eh lihat ada orang buat vas, aku jadi pengen” Ucap Awan senang
“Wan, umur kita udah berapa? Jangan kayak anak kecil ah, masak mau ikutan anak – anak itu buat vas bunga” tolakku
Saat itu aku dan Awan sedang berada di sebuah taman, ada anak – anak kecil sedang membuat vas, lebih tepatnya menghias vas yang telah jadi dengan cat  warna – warni. Awan mengacuhkan ucapanku dan mendekati guru seni anak – anak itu meminta izin untuk ikut mewarnai vas bunga yang ada, ia lalu menggambar berbagai gambar. Padahal gambarnya payah sekali, apa dia tidak sadar kalau gambarnya payah. Ia lalu memberikan uang pada ibu guru itu untuk vas yang dipegangnya.
“Wan, untuk apa vas itu?” aku bertanya padanya tapi ia hanya diam sepanjang jalan
Saat kami berada didepan rumahku ia memberikan Vas nya padaku
“Untukmu, selamat ulang tahun Mentari ku” aku tertegun mendengar kata – katanya “Mentari ku” dia bilang. Aku merasakan debaran berbeda, selama bertahun- tahun bersahabat dengannya aku tidak pernah merasa seperti ini.
“Wan ulang tahunku kan sudah lewat 5 hari yang lalu” ucapku pura – pura kesal, menyembunyikan sedikit kegugupanku.
“Bukan masalah , aku hanya ingin memberikannya padamu, kau bisa menanam mawar putih disana” ucapnya polos lalu pergi meninggalkanku
Setelah itu esoknya kudapati ia telah kembali ke Brunei Darussalam untuk menyelesaikan kuliahnya disana, aku bahkan tidak pernah menyangka itu semua adalah kenangan manis yang bisa kuingat saja tanpa bisa kuulangi lagi. Aku lalu menangis sepanjang malam, menenggelamkan wajahku kedalam selimut dan tanpa kusadari aku telah tertidur dan bermimpi indah.